Senin, 31 Agustus 2015
Sastra Jawa-Sunda
Sastra Jawa-Sunda adalah hasil karya sastra Sunda, baik yang berhubungan dengan Sunda maupun tidak, namun ditulis menggunakan bahasa Jawa oleh orang Sunda.
Pengantar
Orang Sunda yang menghuni bagian barat pulau Jawa sudah secara dini mengenal aksara. Prasasti-prasasti dinasti Tarumanagara yang diketemukan, ditarikhkan berasal dari abad ke-5 Masehi. Prasasti-prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta. Lama-kelamaan kemudian orang-orang Sunda pun menuliskan karya sastra mereka menggunakan bahasa Sunda kuna.
Pengaruh budaya Jawa
Antara bagian barat pulau Jawa, tempat tinggal suku Sunda dan bagian timur, tempat tinggal suku Jawa yang sejati, sejak zaman dahulu kala sudah terjadi hubungan secara intensif. Sebenarnya batas timur budaya Sunda pada abad ke-5 Masehi diperkirakan berada kurang lebih di garis antara daerah yang sekarang disebut Kendal dan Dieng dan sekarang terletak di provinsi Jawa Tengah.
Namun akibat ekspansi sukubangsa Jawa menuju ke barat, perbatasan
antara budaya Sunda dan budaya Jawa berada lebih ke barat yaitu di
sekitar Indramayu, Cirebon sampai ke Cilacap. Kemudian ada pula beberapa enklave di Jawa, terutama di Banten dan beberapa desa di Karawang.
Pengaruh-pengaruh budaya Jawa juga sudah terlihat dalam karya-karya
sastra Sunda Kuna. Ditemukan ada beberapa kata-kata serapan dari bahasa
Jawa (Kuna) dan beberapa karya sastra Jawa Kuna banyak pula yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Sunda Kuna. Bahkan naskah tertua sastra Jawa Kuna berasal dari daerah Sunda di Jawa Barat. Misalkan naskah kakawin Arjunawiwaha yang tertua dan sekaligus naskah lontar (atau sebenarnya nipah) tertua pula berasal dari daerah sekitar Bandung. Naskah ini sekarang disimpan di Perpustakaan Nasional RI dan bertarikhkan tahun 1334 Masehi. Selain Arjunawiwaha masih ada karya-karya sastra Jawa Kuna yang berasal dari daerah Sunda, seperti misalkan Kunjarakarna.
Namun pengaruh yang efeknya lebih terasa dan lestari terjadi pada abad ke-16 dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa serta ekspansi kerajaan Mataram II yang dipimpin oleh Sultan Agung. Sultan Agung ingin mempersatukan pulau Jawa dan sekitarnya dalam kerangka negara kesatuan Mataram. Meski hegemoni Mataram atas Jawa Barat berakhir pada tahun 1705,
pengaruh budaya Jawa tidaklah berakhir, justru malah diperkuat dengan
ditetapkannya bahasa Jawa sebagai bahasa resmi pemerintahan di Jawa
Barat dan diputuskannya pemakaian sistem pembagian administratif Jawa.
Pembagian administratif model Jawa ini adalah pembagian daerah kepada kabupaten-kabupaten yang berbeda-beda.
Sastra Jawa-Sunda
Dengan diruntuhkannya Pajajaran, kerajaan Hindu-Sunda terakhir, oleh Banten pada tahun 1579, bermulalah sejarah baru untuk kesustraan Sunda. Mirip dengan situasi di Bali dan mungkin juga Madura setelah ditaklukkan oleh Majapahit,
di Sunda orang-orang berhenti menulis karya sastra mereka menggunakan
bahasa Sunda dan aksara Sunda kuna. Mereka mulai menulis dalam bahasa
Jawa menggunakan aksara Jawa dan aksara pegon. Bahasa Sunda kelak mulai dipergunakan lagi untuk menulis pada pertengahan abad ke-19 dengan pudarnya pengaruh Mataram dan menguatnya pengaruh pemerintahan Hindia-Belanda. Bahkan pemerintah kolonial justru yang menggalakkan pemakaian bahasa Sunda dalam medium tertulis. Pemerintah koloni kala itu ingin meneliti budaya Sunda secara lebih mendalam.
Sastra Jawa-Sunda bisa dibagi menjadi tiga berdasarkan daerah asal yaitu: Banten, Indramayu dan Cirebon, dan Priangan.
Ciri khas sastra Jawa-Sunda
Bahasa Jawa yang dipergunakan untuk menuliskan karya sastra
Jawa-Sunda secara umum biasanya adalah dialek bahasa Jawa khas Cirebon.
Salah satu ciri khas dialek ini adalah tidak adanya perbedaan antara fonem retrofleks dan dental.,
mirip dengan bahasa Jawa yang dipergunakan dalam kesusastraan Jawa-Bali
pula. Sehingga semua fonem /t./ atau /th/ dan /d./ atau /dh/ dilafazkan
dan ditulis sebagai /t/ atau /d/ dental.
Kemudian dalam aksara Jawa yang dipergunakan oleh orang Sunda ada
sedikit perbedaan ejaan. Aksara swara atau vokal /o/ yang biasanya
ditulis dengan menggunakan dua tanda diakritik, taling dan tarung, oleh orang Sunda hanya ditulis dengan tarung saja. Sehingga sebenarnya yang ditulis bukan vokal /o/ namun /a:/ (a panjang). Oleh orang Sunda aksara Jawa-Sunda disebut Cacarakan.
Sastra Jawa biasa ditulis dalam bentuk syair atau tembang, yang ditulis dalam bentuk prosa atau gancaran lebih sedikit jumlahnya dan biasa tidak dianggap sastra. Dari bermacam-macam jenis metrum Jawa, yang dikenal di Sunda hanyalah Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula.
Daftar karya sastra Sunda-Jawa
Di bawah ini disajikan daftar karya sastra dalam bahasa Jawa yang
berasal dari daerah kebudayaan Sunda. Daftar ini tidak lengkap, apabila
para pembaca mengenal karya sastra lainnya dalam bahasa Jawa namun
berasal dari daerah Sunda, silakan menambahkannya pada daftar ini.
- Babad Cerbon
- Cariosan Prabu Siliwangi
- Carita Ratu Galuh
- Carita Purwaka Caruban Nagari
- Carita Waruga Guru
- Kitab Waruga Jagat
- Layang Syekh Gawaran
- Pustaka Raja Purwa
- Sajarah Banten
- Suluk Wuyung Aya
- Wahosan Tumpawarang
- Wawacan Angling Darma
- Wawacan Syekh Baginda Mardan
- Kitab Pramayoga/jipta Sara
Karya Sastra Sunda-Jawa yang agak kontroversial
Pada awal dasawarsa 1970-an di daerah Cirebon, ditemukan dua naskah yang berisikan teks Pustaka Nagarakretabhumi dan Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara (bagian dari kumpulan naskah yang dikenal juga dengan naskah Wangsakerta) dalam bahasa Jawa Kuna.
Kala itu penemuan ini cukup menggemparkan, ada teks Jawa Kuna yang
tidak dikenal berasal dari Jawa Barat. Namun setelah diteliti lebih
lanjut, hasilnya lebih menggemparkan lagi, sebab diduga keras kedua teks
yang memuat 'sejarah' ini merupakan karangan modern.
Namun biar bagaimanapun juga, kedua teks ini harus dianggap sebagai
contoh ekspresi kesusastraan dalam bahasa Jawa (Kuna) dan berasal dari
paruh kedua abad ke-20.
Ditilik dari sudut pandang terakhir ini, hal ini sungguh menarik.
Karena selain isinya menarik, gaya bahasanya bisa dikatakan cukup bagus
pula.
Sastra Sunda
Sastra Sunda adalah karya kesusastraan dalam bahasa Sunda atau dari daerah kebudayaan suku bangsa Sunda
atau di mana mereka memberikan pengaruh besar. Sastra Sunda yang mulai
muncul pada abad ke-15, awalnya dituliskan di atas daun lontar, dan
kemudian di atas kertas. Aksara yang dipakai adalah aksara Sunda Kuno, aksara Sunda-Jawa (Sunda: cacarakan), dan juga huruf Arab.
Daftar karya sastra
Sastra Minangkabau
Sastra Minangkabau adalah sastra yang hidup dan dipelihara dalam masyarakat Minangkabau, baik lisan maupun tulisan. Adapun sastra lisan yang masih hidup dalam masyarakat Minangkabau adalah jenis kaba dan dendang.
Beberapa sastra Minangkabau
Kaba
Kaba adalah cerita yang disampaikan oleh tukang kaba dengan iringan gesekan rebab. Kekuatan sastra kaba ini sangat ditentukan kemampuan tukang kaba. Jenis sastra kaba tersebut misalnya Kaba Cindua Mato, Kaba Anggun Nan Tongga, Kaba Lareh Simawang, Kaba Rancak Dilabuah, Kaba Gadih Basanai, Kaba Malin Deman, Kaba Rambun Pamenan.
di dalam kaba (cerita) tukang kaba tidak hanya menyampaikan bahan
berbentuk prosa ssaja seperti contoh di atas, namun tukang kaba juga
menyampaikan bahan cerita yang bukan cerita dengan bentuk seperti petuah
adat dan nasihat seperti halnya gurindam.
Dendang
Dendang adalah seni suara yang diiringi oleh alat musik saluang.
Sastra Melayu
Daftar bentuk sastra Melayu
Gurindam
Gurindam Lama
contoh :- Pabila banyak mencela orang
- Itulah tanda dirinya kurang
-
- Dengan ibu hendaknya hormat
- Supaya badan dapat selamat
Gurindam Dua Belas
Kumpulan gurindam yang dikarang oleh Raja Ali Haji dari Kepulauan Riau. Dinamakan Gurindam Dua Belas oleh karena berisi 12 pasal, antara lain tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.Hikayat
Karmina
Contoh
Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu masih bertanya pula
Pantun
Contoh Pantun
Kayu cendana di atas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang
Seloka
- contoh seloka lebih dari 4 baris:
-
- Baik budi emak si Randang
- Dagang lalu ditanakkan
- Tiada berkayu rumah diruntuhkan
- Anak pulang kelaparan
- Anak dipangku diletakkan
- Kera dihutan disusui
Syair
Talibun
Contoh Talibun :
- Kalau anak pergi ke pekan
- Yu beli belanak beli
- Ikan panjang beli dahulu
- Kalau anak pergi berjalan
- Ibu cari sanakpun cari
- Induk semang cari dahulu
Lain-lain
- Kitab Seribu Masalah
Sastra Jawa
Sejarah Sastra Jawa dimulai dengan sebuah prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi (Sukobumi), Pare, Kediri Jawa Timur. Prasasti yang biasa disebut dengan nama Prasasti Sukabumi ini bertarikh 25 Maret tahun 804 Masehi. Isinya ditulis dalam bahasa Jawa Kuna.
Setelah prasasti Sukabumi, ditemukan prasasti lainnya dari tahun 856 M yang berisikan sebuah sajak yang disebut kakawin. Kakawin yang tidak lengkap ini adalah sajak tertua dalam bahasa Jawa (Kuna).
Biasanya sejarah sastra Jawa dibagi dalam empat masa:
- Sastra Jawa Kuna
- Sastra Jawa Tengahan
- Sastra Jawa Baru
- Sastra Jawa Modern
Terdapat pula kategori Sastra Jawa-Bali, yang berkembang dari Sastra Jawa Tengahan. Selain itu, ada pula Sastra Jawa-Lombok, Sastra Jawa-Sunda, Sastra Jawa-Madura, dan Sastra Jawa-Palembang.
Dari semua sastra tradisional Nusantara,
sastra Jawa adalah yang paling berkembang dan paling banyak tersimpan
karya sastranya. Tetapi setelah proklamasi RI, tahun 1945 sastra Jawa
agak dianaktirikan karena di Negara Kesatuan RI, kesatuan yang
diutamakan.
Bahasa Jawa pertama-tama ditulis dalam aksara turunan aksara Pallawa yang berasal dari India Selatan. Aksara ini yang menjadi cikal bakal aksara Jawa modern atau Hanacaraka yang masih dipakai sampai sekarang. Dengan berkembangnya agama Islam pada abad ke-15 dan ke-16, huruf Arab juga dipergunakan untuk menulis bahasa Jawa; huruf ini disebut dengan nama huruf pegon. Ketika bangsa Eropa menjajah Indonesia, termasuk Jawa, abjad Latin pun digunakan untuk menulis bahasa Jawa.
Kategori sastra Jawa
Sastra Jawa secara global bisa dibagi menjadi dua kategori yaitu yang
ditulis dalam bentuk prosa atau puisi. Dalam bentuk prosa biasanya
disebut gancaran dan dalam bentuk puisi biasa disebut dengan istilah tembang. Sebagian besar karya sastra Jawa ditulis dalam bentuk tembang mulai dari awal bahkan sampai saat ini. Untuk informasi lebih lanjut silakan lihat artikel: Tembang dalam Sastra Jawa.
SASTRA BANJAR
DEFINISI SASTRA BANJAR
Menurut Tajuddin Noor Ganie (2006:4) para cerdik pandai di kalangan etnis Banjar di Tanah Banjar
(Kalimantan Selatan) masih saling adu argumentasi mengenai definisi
sastra Banjar yang paling pas. Dalam tulisannya di rubrik Opini SKH
Radar Banjarmasin Minggu (Pintu Masuk ke Rumah Sastra Banjar), Tajuddin
Noor Ganie mencatat setidak-tidaknya ada 5 definisi sastra Banjar yang
layak dipertimbangkan untuk dipikirkan dan akhirnya disepakati bersama
oleh semua pihak untuk ditetapkan sebagai definisi sastra Banjar yang
diresmikan.
DEFINISI PERTAMA
Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang peri kehidupan
etnis Banjar di Tanah Banjar (Kalsel) yang dilisankan atau dituliskan
dalam bahasa Banjar oleh sastrawan yang berasal dari kalangan etnis
Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar.
Ciri-ciri dan Implikasinya
Menurut definisi di atas Sastra Banjar merujuk kepada 3 ciri, yakni :
- bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar di Tanah Banjar (fokus dan lokus menyangkut aspek sosio kultural bersifat ekskulsif)
- dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar (fokus dan lokus menyangkut aspek bahasanya bersifat eksklusif)
- sastrawan yang melisankan atau menuliskannya bukan sastrawan anonim tapi sastrawan yang diketahui asal-usulnya, yakni berasal dari kalangan etnis Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar (fokus dan lokus menyangkut faktor etnisitas sastrawannya bersifat eksklusif)
Implikasi akibat adanya ciri ke 3 pada defiisi sastra Banjar di atas
adalah tidak tertampungnya karya sastra berbahasa Banjar yang bersifat
anonim karena faktor etnisitas yang melekat pada diri sastrawan anonim
tidak dapat dipastikan dengan jelas. Akibatnya, semua karya sastra
berbahasa Banjar yang anonim seperti andi-andi, bacaan (mantra Banjar), bapandung (monolog Banjar), cerita rakyat (mitologi, legenda, hikayat, kisah, dongeng), japin carita (teater), lamut (prosa liris berbahasa Banjar), madihin (puisi Banjar), mamanda (teater), pantun Banjar, syair Banjar, dan surat tarasul (surat cinta berbahasa Banjar) tidak dapat dimasukkan ke dalam kelompok sastra Banjar.
DEFINISI DUA
Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang peri kehidupan
etnis Banjar di mana pun juga di seluruh dunia (tidak mesti di Tanah
Banjar)yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh
sastrawan yang berasal dari kalangan etnis Banjar di mana saja mereka
berada di seluruh dunia (tidak mesti lahir, tinggal, atau pernah tinggal
di Tanah Banjar).
Ciri-ciri dan Implikasinya
Menurut definisi di atas sastra Banjar merujuk kepada 3 ciri, yakni :
- bercerita tentang peri kehidupan etnis Banjar di mana pun juga di seluruh dunia (fokus dan lokus menyangkut aspek sosio kulturalnya tidak dibatasi)
- dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar (fokus dan lokus menyangkut aspek bahasanya bersifat eksklusif)
- sastrawan yang melisankan atau menuliskannya tidak dibatasi pada sastrawan Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Kalsel saja, semua sastrawan keturunan Banjar di mana pun mereka berada termasuk dalam lingkup definisi ini (fokus dan lokus menyangkut faktor etnisitas sastrawannya bersifat terbuka), pengecualian hanya dilakukan bagi sastrawan anonim
Implikasi akibat adanya pengecualian terhadap sastrawan anonim pada
ciri yang ke 3 di atas, maka semua genre/jenis sastra Banjar yang
tertolak pada definisi pertama juga masih tertolak pada defiisi ke dua
ini.
DEFINISI TIGA
Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang peri kehidupan
etnis Banjar di mana pun juga di seluruh dunia (tidak mesti di Tanah
Banjar) yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh siapa
saja (tidak mesti oleh sastrawan yang berlatar belakang etnis Banjar),
Ciri-ciri dan Implikasinya
Menurut definisi di atas sastra Banjar merujuk kepada 3ciri, yakni
- bercerita tentang peri kehidupan etnis Banjar di mana pun juga di seluruh dunia (fokus dan lokus menyangkut aspek sosio kulturalnya tidak dibatasi
- dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar (fokus dan lokus menyangkut aspek bahasanya bersifat eksklusif)
- sastrawan yang melisankan atau menuliskannya boleh siapa saja, termasuk oleh sastrawan anonim sekali pun (fokus dan lokus menyangkut faktor etnisitas sastrawannya bersifat terbuka, tidak ada pengecualian sama sekali).
Implikasi akibat tidak adanya pembatasan dalam hal fokus dan lokus
menyangkut faktor etnisitas sastrawannya (anonim, tidak anonim, Banjar,
dan bukan Banjar sama saja), maka semua genre/jenis sastra Banjar yang
tertolak dalam definisi satu dan dua di atas dengan sendirinya ikut
tertampung dalam definisi tiga ini.
DEFINISI EMPAT
Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang apa saja (tidak
mesti tentang peri kehidupan etnis Banjar di mana pun juga di seluruh di
dunia) yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh siapa
saja (tidak mesti oleh sastrawan berlatar belakang etnis Banjar).
Ciri-ciri dan Implikasinya
Menurut definisi di atas sastra Banjar hanya merujuk kepada satu
ciri, yakni dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar. Semua karya
sastra yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar, tanpa
memandang apa pun yang diceritakan di dalamnya tetap diakui sebagai
sastra Banjar (fokus dan lokus menyangkut aspek sosio kulturalnya tidak
dibatasi), dan siapun yang meuliskannya (anonim, tidak anonim, orang
Banjar, atau bukan orang Banjar) tetap diakui sebagai sastra Banjar
(fokus dan lokus menyangkut faktor etnisitas sastrawannya bersifat
terbuka).
Implikasi akibat tidak adanya pembatasan dalam hal fokus dan lokus
menyangkut aspek sosio kultural dan faktor etnisitas sastrawannya, maka
sastra Banjar menjadi wilayah kreatif yang terbuka bagi siapa saja yang
mampu melisankan dan menuliskan karya sastra berbahasa Banjar.
DEFINISI LIMA
Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang peri kehidupan
etnis Banjar di mana pun juga di seluruh dunia yang dilisankan atau
dituliskan dalam bahasa apa saja (tidak mesti dalam bahasa Banjar)oleh
siapa saja (tidak mesti oleh sastrawan yang berlatar belakang etnis
Banjar)
Ciri-ciri dan Implikasinya
Menurut definisi di atas sastra Banjar hanya merujuk kepada satu
ciri, yakni bercerita tentang peri kehidupan etnis Banjar di mana pun
juga di seluruh dunia.
Implikasi akibat tidak adanya pembatasan dalam hal fokus lokus
menyangkut aspek bahasa dan faktor etnisitas sastrawannya, maka sastra
Banjar menjadi wilayah kreatif yang terbuka bagi siapa saja (tidak mesti
bersuku bangsa Banjar) yang mampu melisankan atau menuliskan karya
sastra dalam bahasa yang dikuasainya (tidak mesti dalam bahasa Banjar)
yang bercerita tentang peri kehidupan etnis Banjar di mana pun juga di
seluruh dunia.
Sastra Bali
Sastra Bali merupakan salah satu khazanah kesusastraan Nusantara.
Seperti kesusastraan umumnya, sastra Bali ada yang diaktualisasikan
dalam bentuk lisan (orality) dan bentuk tertulis (literary). Menurut
katagori periodisasinya kesusastraan Bali ada yang disebut Sastra Bali
Purwa dan Sastra Bali Anyar. Sastra Bali Purwa maksudnya adalah Sastra
Bali yang diwarisi secara tradisional dalam bentuk naskah-naskah lama.
Sastra Bali Anyar yaitu karya sastra yang diciptakan pada masa
masyarakat Bali telah mengalami modernisasi. Ada juga yang menyebut
dengan sebutan Sastra Bali Modern.
Sastra Bali sebelum dikenal adanya kertas di Bali, umumnya ditulis di
atas daun lontar. Karena ditulis di atas daun lontar, "buku sastra" ini
disebut dengan "lontar". Memang ada bentuk tertulis lainnya, seperti
prasasti, dengan menggunakan berbagai media seperti batu dan lempengan
tembaga, namun tidak terdapat karya Sastra Bali ditulis di atas bilah
bambu, kulit binatang, kayu, kulit kayu. Belakangan setelah dikenal
kertas, penulis karya sastra Bali menuliskan karyanya di atas kertas,
bahkan sudah banyak diketik.
Bahasa yang digunakan untuk menulis Sastra Bali ada tiga jenis yaitu
Bahasa Jawa Kuna (Kawi Bali), Bahasa Jawa Tengahan, Bahasa Bali.
Sastra
Sastra (Sanskerta: शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia
kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau
sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.
Yang agak bias adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi.
Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks.
Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra yang kental nuansa puitis
atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu contohnya,
diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra.
Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.
Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa.
Jadi, yang termasuk dalam kategori Sastra adalah:
Angkatan 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul,
namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan
pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan
2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya
diterbitkan oleh Gramedia,
Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis,
eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000,
termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
- Ahmad Fuadi
- Negeri 5 Menara (2009)
- Ranah 3 Warna (2011)
- Rantau 1 Muara (2013)
- Andrea Hirata
- Laskar Pelangi (2005)
- Sang Pemimpi (2006)
- Edensor (2007)
- Maryamah Karpov (2008)
- Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)
- Ayu Utami
- Saman (1998)
- Larung (2001)
- Cucuk Espe
- Para Pejabat (1995)
- Monolog Sang Penari (1997)
- Bukan Mimpi Buruk (1998)
- Mengejar Kereta Mimpi (2001)
- Rembulan Retak (2003)
- Juliet dan Juliet (2004)
- 13 Pagi (2010)
- Trilogi monolog JENDERAL MARKUS (2010)
- INONG dongeng rumah jalang (2011)
- Wisma Presiden (2012)
- Ganasrev (2013)
- Puisinolog; MANIVESTO ORGIL, (2014)
- Revolusi Senyap (2014)
- 3 Repertoar Cucuk Espe (2015)
- Dewi Lestari
- Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
- Supernova 2: Akar (2002)
- Supernova 3: Petir (2004)
- Supernova 4: Partikel (2012)
- Habiburrahman El Shirazy
- Ayat-Ayat Cinta (2004)
- Diatas Sajadah Cinta (2004)
- Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
- Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
- Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
- Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
- Dalam Mihrab Cinta (2007)
- Herlinatiens
- Garis Tepi Seorang Lesbian (2003)
- Dejavu, Sayap yang Pecah (2004)
- Jilbab Britney Spears (2004)
- Sajak Cinta Yang Pertama (2005)
- Malam Untuk Soe Hok Gie (2005)
- Rebonding (2005)
- Broken Heart, Psikopop Teen Guide (2005)
- Koella, Bersamamu dan Terluka (2006)
- Sebuah Cinta yang Menangis (2006)
- Raudal Tanjung Banua
- Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
- Ziarah bagi yang Hidup (2004)
- Parang Tak Berulu (2005)
- Gugusan Mata Ibu (2005)
- Seno Gumira Ajidarma
- Atas Nama Malam
- Sepotong Senja untuk Pacarku
- Biola Tak Berdawai
Angkatan Reformasi
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri,
muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya
angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen,
maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi.
Di rubrik sastra harian Republika
misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa
atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan
penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema
sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik
yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru.
Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak
melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan
novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari
tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra(dot)com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
- Widji Thukul
- Puisi Pelo
- Darman
Angkatan 1980 - 1990an
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado,
Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet
Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor
Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang
menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai.
Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya
adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya
mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang
menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada
umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak
belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh
sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk
menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an
biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh
sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang
dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya.
Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar
baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an
- Ahmadun Yosi Herfanda
- Ladang Hijau (1980)
- Sajak Penari (1990)
- Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
- Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
- Sembahyang Rumputan (1997)
- Y.B Mangunwijaya
- Burung-burung Manyar (1981)
- Darman Moenir
- Bako (1983)
- Dendang (1988)
- Budi Darma
- Olenka (1983)
- Rafilus (1988)
- Sindhunata
- Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
- Arswendo Atmowiloto
- Canting (1986)
- Hilman Hariwijaya
- Lupus - 28 novel (1986-2007)
- Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
- Olga Sepatu Roda (1992)
- Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)
- Dorothea Rosa Herliany
- Nyanyian Gaduh (1987)
- Matahari yang Mengalir (1990)
- Kepompong Sunyi (1993)
- Nikah Ilalang (1995)
- Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
- Gustaf Rizal
- Segi Empat Patah Sisi (1990)
- Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
- Ben (1992)
- Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
- Remy Sylado
- Ca Bau Kan (1999)
- Kerudung Merah Kirmizi (2002)
- Afrizal Malna
- Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
- Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990)
- Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
- Dinamika Budaya dan Politik (1991)
- Arsitektur Hujan (1995)
- Pistol Perdamaian (1996)
- Kalung dari Teman (1998)
- Templat:Lintang Sugianto
- Templat:Matahari Di atas Gilli (1997)
- Templat:Kusampaikan kumpulan puisi (2002)
- Templat:Menyapa Pagi Anak Aceh (2004)
Angkatan 1966 - 1970-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3] Semangat avant-garde
sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan
ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya
sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd.
Penerbit Pustaka Jaya
sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa
ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok
ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.
Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, dan banyak lagi yang lainnya.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
|
|
Angkatan 1950 - 1960-an
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin.
Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita
pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956
dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an
|
|
Angkatan 1945
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai
karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik
dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik.
Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan
merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar.
Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat
Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan
angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati
nurani. Selain Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
- Chairil Anwar
- Kerikil Tajam (1949)
- Deru Campur Debu (1949)
- Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
- Tiga Menguak Takdir (1950)
- Idrus
- Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
- Aki (1949)
- Perempuan dan Kebangsaan
- Achdiat K. Mihardja
- Atheis (1949)
- Trisno Sumardjo
- Katahati dan Perbuatan (1952)
- Utuy Tatang Sontani
- Suling (drama) (1948)
- Tambera (1949)
- Awal dan Mira - drama satu babak (1962)
- Suman Hs.
- Kasih Ta' Terlarai (1961)
- Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
- Pertjobaan Setia (1940)
Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang
dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa
tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa
nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah
sastra intelektual, nasionalistis dan elitis.
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar Terkembang,
menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra
Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.
Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
- Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
- Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.
Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
Angkatan Balai Pustaka
Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk
dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah
yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki
misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa
yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar
dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" karena ada banyak
sekali karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal
kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia
yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.[2]
Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan
menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam
terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam
perkembangannya, tema-tema inilah yang banyak diikuti oleh
penulis-penulis lainnya pada masa itu.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:
- Merari Siregar
-
- Azab dan Sengsara (1920)
- Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
- Cinta dan Hawa Nafsu
- Marah Roesli
-
-
Siti Nurbaya (1922)
- La Hami (1924)
- Anak dan Kemenakan (1956)
-
- Muhammad Yamin
-
- Tanah Air (1922)
- Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
- Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
- Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
- Nur Sutan Iskandar
-
- Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
- Cinta yang Membawa Maut (1926)
- Salah Pilih (1928)
- Karena Mentua (1932)
- Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
- Hulubalang Raja (1934)
- Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
- Tulis Sutan Sati
-
- Tak Disangka (1923)
- Sengsara Membawa Nikmat (1928)
- Tak Membalas Guna (1932)
- Memutuskan Pertalian (1932)
- Djamaluddin Adinegoro
-
- Darah Muda (1927)
- Asmara Jaya (1928)
- Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati
-
- Pertemuan (1927)
- Abdul Muis
-
- Salah Asuhan (1928)
- Pertemuan Djodoh (1933)
- Aman Datuk Madjoindo
-
- Menebus Dosa (1932)
- Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
- Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)
Sastra Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.
Karya Sastra Melayu Lama
|
|
Pujangga Lama
Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.[1]
Karya Sastra Pujangga Lama
Sejarah
- Sejarah Melayu (Malay Annals)
- Tuhfat al-Nafis (Bingkisan Berharga) karya Raja Ali Haji
Hikayat
|
|
Syair
- Syair Bidasari
- Syair Hukum Nikah karya Raja Ali Haji
- Syair Ken Tambuhan
- Syair Siti Shianah karya Raja Ali Haji
- Syair Sultan Abdul Muluk karya Raja Ali Haji
- Syair Suluh Pegawai karya Raja Ali Haji
- Syair Raja Mambang Jauhari
- Syair Raja Siak
Gurindam
- Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji
Kitab agama
- Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
- Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
- Nur ad-Daqa'iq (Cahaya pada kehalusa
Sastra Indonesia
Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara.
Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi
terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.
Rabu, 26 Agustus 2015
Selamat Datang di Blog Ilmu & Karya Sastra
Dengan mengucapkan puji syukur
kepada Allah swt. atas nikmat serta karunianya Saya bisa menyampaikan sedikit
ilmu kepada teman/saudara/kerabat melalui Blog sederhana ini. Tidak lupa sholawat
serta salam Saya sampaikan kepada Nabi Muhammad saw. Yang menjadi penuntun umat
manusia di dunia untuk senantiasa mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah swt.
Dengan Blog sederhana ini Saya
bermaksud memberikan sedikit ilmu dan karya tentang tentang sastra. Dalam Blog
ini Saya tidak bermaksud menggurui atau menganggap lebih pandai dalam
menyampaikan ilmu dan karya tentang sastra. Namun dengan dibuatnya Blog ini,
Saya berharap bagi teman-teman di dunia dapat memanfaatkan apa yang terdapat
dalam Blog.
Apabila didalam Bolg ini terdapat
kekeliuran penulisan/makna/simbol serta mengandung SARA, Saya memohon maaf dan
mohon untuk bisa disampaikan melalui koment yang tersedia. Apabila dari para
pembaca ingin memuat pengetahuan tentang sastra dan karya sastra bisa
mengirimkan melalui email yang tersedia. Blog ini terbuka untuk siapa saja yang
ingin membaca atau mengkopi isi dalam Blog (dengan menyertakan halaman Blog ini).
Langganan:
Postingan (Atom)