Senin, 31 Agustus 2015

Sastra Jawa-Sunda

Sastra Jawa-Sunda adalah hasil karya sastra Sunda, baik yang berhubungan dengan Sunda maupun tidak, namun ditulis menggunakan bahasa Jawa oleh orang Sunda.

Pengantar

Orang Sunda yang menghuni bagian barat pulau Jawa sudah secara dini mengenal aksara. Prasasti-prasasti dinasti Tarumanagara yang diketemukan, ditarikhkan berasal dari abad ke-5 Masehi. Prasasti-prasasti ini ditulis dalam bahasa Sanskerta. Lama-kelamaan kemudian orang-orang Sunda pun menuliskan karya sastra mereka menggunakan bahasa Sunda kuna.

Pengaruh budaya Jawa

Antara bagian barat pulau Jawa, tempat tinggal suku Sunda dan bagian timur, tempat tinggal suku Jawa yang sejati, sejak zaman dahulu kala sudah terjadi hubungan secara intensif. Sebenarnya batas timur budaya Sunda pada abad ke-5 Masehi diperkirakan berada kurang lebih di garis antara daerah yang sekarang disebut Kendal dan Dieng dan sekarang terletak di provinsi Jawa Tengah. Namun akibat ekspansi sukubangsa Jawa menuju ke barat, perbatasan antara budaya Sunda dan budaya Jawa berada lebih ke barat yaitu di sekitar Indramayu, Cirebon sampai ke Cilacap. Kemudian ada pula beberapa enklave di Jawa, terutama di Banten dan beberapa desa di Karawang.
Pengaruh-pengaruh budaya Jawa juga sudah terlihat dalam karya-karya sastra Sunda Kuna. Ditemukan ada beberapa kata-kata serapan dari bahasa Jawa (Kuna) dan beberapa karya sastra Jawa Kuna banyak pula yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Sunda Kuna. Bahkan naskah tertua sastra Jawa Kuna berasal dari daerah Sunda di Jawa Barat. Misalkan naskah kakawin Arjunawiwaha yang tertua dan sekaligus naskah lontar (atau sebenarnya nipah) tertua pula berasal dari daerah sekitar Bandung. Naskah ini sekarang disimpan di Perpustakaan Nasional RI dan bertarikhkan tahun 1334 Masehi. Selain Arjunawiwaha masih ada karya-karya sastra Jawa Kuna yang berasal dari daerah Sunda, seperti misalkan Kunjarakarna.
Namun pengaruh yang efeknya lebih terasa dan lestari terjadi pada abad ke-16 dengan penyebaran agama Islam di pulau Jawa serta ekspansi kerajaan Mataram II yang dipimpin oleh Sultan Agung. Sultan Agung ingin mempersatukan pulau Jawa dan sekitarnya dalam kerangka negara kesatuan Mataram. Meski hegemoni Mataram atas Jawa Barat berakhir pada tahun 1705, pengaruh budaya Jawa tidaklah berakhir, justru malah diperkuat dengan ditetapkannya bahasa Jawa sebagai bahasa resmi pemerintahan di Jawa Barat dan diputuskannya pemakaian sistem pembagian administratif Jawa. Pembagian administratif model Jawa ini adalah pembagian daerah kepada kabupaten-kabupaten yang berbeda-beda.

Sastra Jawa-Sunda

Dengan diruntuhkannya Pajajaran, kerajaan Hindu-Sunda terakhir, oleh Banten pada tahun 1579, bermulalah sejarah baru untuk kesustraan Sunda. Mirip dengan situasi di Bali dan mungkin juga Madura setelah ditaklukkan oleh Majapahit, di Sunda orang-orang berhenti menulis karya sastra mereka menggunakan bahasa Sunda dan aksara Sunda kuna. Mereka mulai menulis dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Jawa dan aksara pegon. Bahasa Sunda kelak mulai dipergunakan lagi untuk menulis pada pertengahan abad ke-19 dengan pudarnya pengaruh Mataram dan menguatnya pengaruh pemerintahan Hindia-Belanda. Bahkan pemerintah kolonial justru yang menggalakkan pemakaian bahasa Sunda dalam medium tertulis. Pemerintah koloni kala itu ingin meneliti budaya Sunda secara lebih mendalam.
Sastra Jawa-Sunda bisa dibagi menjadi tiga berdasarkan daerah asal yaitu: Banten, Indramayu dan Cirebon, dan Priangan.

Ciri khas sastra Jawa-Sunda

Bahasa Jawa yang dipergunakan untuk menuliskan karya sastra Jawa-Sunda secara umum biasanya adalah dialek bahasa Jawa khas Cirebon. Salah satu ciri khas dialek ini adalah tidak adanya perbedaan antara fonem retrofleks dan dental., mirip dengan bahasa Jawa yang dipergunakan dalam kesusastraan Jawa-Bali pula. Sehingga semua fonem /t./ atau /th/ dan /d./ atau /dh/ dilafazkan dan ditulis sebagai /t/ atau /d/ dental.
Kemudian dalam aksara Jawa yang dipergunakan oleh orang Sunda ada sedikit perbedaan ejaan. Aksara swara atau vokal /o/ yang biasanya ditulis dengan menggunakan dua tanda diakritik, taling dan tarung, oleh orang Sunda hanya ditulis dengan tarung saja. Sehingga sebenarnya yang ditulis bukan vokal /o/ namun /a:/ (a panjang). Oleh orang Sunda aksara Jawa-Sunda disebut Cacarakan.
Sastra Jawa biasa ditulis dalam bentuk syair atau tembang, yang ditulis dalam bentuk prosa atau gancaran lebih sedikit jumlahnya dan biasa tidak dianggap sastra. Dari bermacam-macam jenis metrum Jawa, yang dikenal di Sunda hanyalah Kinanti, Sinom, Asmarandana dan Dangdanggula.

Daftar karya sastra Sunda-Jawa

Di bawah ini disajikan daftar karya sastra dalam bahasa Jawa yang berasal dari daerah kebudayaan Sunda. Daftar ini tidak lengkap, apabila para pembaca mengenal karya sastra lainnya dalam bahasa Jawa namun berasal dari daerah Sunda, silakan menambahkannya pada daftar ini.
  • Babad Cerbon
  • Cariosan Prabu Siliwangi
  • Carita Ratu Galuh
  • Carita Purwaka Caruban Nagari
  • Carita Waruga Guru
  • Kitab Waruga Jagat
  • Layang Syekh Gawaran
  • Pustaka Raja Purwa
  • Sajarah Banten
  • Suluk Wuyung Aya
  • Wahosan Tumpawarang
  • Wawacan Angling Darma
  • Wawacan Syekh Baginda Mardan
  • Kitab Pramayoga/jipta Sara

Karya Sastra Sunda-Jawa yang agak kontroversial

Pada awal dasawarsa 1970-an di daerah Cirebon, ditemukan dua naskah yang berisikan teks Pustaka Nagarakretabhumi dan Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara (bagian dari kumpulan naskah yang dikenal juga dengan naskah Wangsakerta) dalam bahasa Jawa Kuna. Kala itu penemuan ini cukup menggemparkan, ada teks Jawa Kuna yang tidak dikenal berasal dari Jawa Barat. Namun setelah diteliti lebih lanjut, hasilnya lebih menggemparkan lagi, sebab diduga keras kedua teks yang memuat 'sejarah' ini merupakan karangan modern.
Namun biar bagaimanapun juga, kedua teks ini harus dianggap sebagai contoh ekspresi kesusastraan dalam bahasa Jawa (Kuna) dan berasal dari paruh kedua abad ke-20. Ditilik dari sudut pandang terakhir ini, hal ini sungguh menarik. Karena selain isinya menarik, gaya bahasanya bisa dikatakan cukup bagus pula.

Sastra Sunda


Sastra Sunda adalah karya kesusastraan dalam bahasa Sunda atau dari daerah kebudayaan suku bangsa Sunda atau di mana mereka memberikan pengaruh besar. Sastra Sunda yang mulai muncul pada abad ke-15, awalnya dituliskan di atas daun lontar, dan kemudian di atas kertas. Aksara yang dipakai adalah aksara Sunda Kuno, aksara Sunda-Jawa (Sunda: cacarakan), dan juga huruf Arab.

Daftar karya sastra

Sastra Minangkabau

Sastra Minangkabau adalah sastra yang hidup dan dipelihara dalam masyarakat Minangkabau, baik lisan maupun tulisan. Adapun sastra lisan yang masih hidup dalam masyarakat Minangkabau adalah jenis kaba dan dendang.

Beberapa sastra Minangkabau

Kaba

Kaba adalah cerita yang disampaikan oleh tukang kaba dengan iringan gesekan rebab. Kekuatan sastra kaba ini sangat ditentukan kemampuan tukang kaba. Jenis sastra kaba tersebut misalnya Kaba Cindua Mato, Kaba Anggun Nan Tongga, Kaba Lareh Simawang, Kaba Rancak Dilabuah, Kaba Gadih Basanai, Kaba Malin Deman, Kaba Rambun Pamenan. di dalam kaba (cerita) tukang kaba tidak hanya menyampaikan bahan berbentuk prosa ssaja seperti contoh di atas, namun tukang kaba juga menyampaikan bahan cerita yang bukan cerita dengan bentuk seperti petuah adat dan nasihat seperti halnya gurindam.

Dendang

Dendang adalah seni suara yang diiringi oleh alat musik saluang.

Sastra Melayu

Daftar bentuk sastra Melayu

Gurindam

Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

Gurindam Lama

contoh :
Pabila banyak mencela orang
Itulah tanda dirinya kurang

Dengan ibu hendaknya hormat
Supaya badan dapat selamat

Gurindam Dua Belas

Kumpulan gurindam yang dikarang oleh Raja Ali Haji dari Kepulauan Riau. Dinamakan Gurindam Dua Belas oleh karena berisi 12 pasal, antara lain tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.

Hikayat

Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa yang berisikan tentang kisah, cerita, dongeng maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Salah satu hikayat yang populer di Riau adalah Yong Dolah.

Karmina

Karmina atau dikenal dengan nama pantun kilat adalah pantun yang terdiri dari dua baris. Baris pertama merupakan sampiran dan baris kedua adalah isi. Memiliki pola sajak lurus (a-a). Biasanya digunakan untuk menyampaikan sindiran ataupun ungkapan secara langsung.
Contoh
Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu masih bertanya pula

Pantun

Pantun merupakan sejenis puisi yang terdiri atas 4 baris bersajak a-b-a-b, a-b-b-a, a-a-b-b. Dua baris pertama merupakan sampiran, yang umumnya tentang alam (flora dan fauna); dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut. 1 baris terdiri dari 4-5 kata, 8-12 suku kata.
Contoh Pantun
Kayu cendana di atas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang

Seloka

Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepatah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, kadang-kadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.
contoh seloka lebih dari 4 baris:
Baik budi emak si Randang
Dagang lalu ditanakkan
Tiada berkayu rumah diruntuhkan
Anak pulang kelaparan
Anak dipangku diletakkan
Kera dihutan disusui

Syair

Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud). Syair berasal dari Arab.

Talibun

Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris ( mulai dari 6 baris hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dan seterusnya.
Contoh Talibun :
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak beli
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu

Lain-lain

  • Kitab Seribu Masalah

Sastra Jawa

Sejarah Sastra Jawa dimulai dengan sebuah prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi (Sukobumi), Pare, Kediri Jawa Timur. Prasasti yang biasa disebut dengan nama Prasasti Sukabumi ini bertarikh 25 Maret tahun 804 Masehi. Isinya ditulis dalam bahasa Jawa Kuna.
Setelah prasasti Sukabumi, ditemukan prasasti lainnya dari tahun 856 M yang berisikan sebuah sajak yang disebut kakawin. Kakawin yang tidak lengkap ini adalah sajak tertua dalam bahasa Jawa (Kuna).
Biasanya sejarah sastra Jawa dibagi dalam empat masa:
  • Sastra Jawa Kuna
  • Sastra Jawa Tengahan
  • Sastra Jawa Baru
  • Sastra Jawa Modern
Terdapat pula kategori Sastra Jawa-Bali, yang berkembang dari Sastra Jawa Tengahan. Selain itu, ada pula Sastra Jawa-Lombok, Sastra Jawa-Sunda, Sastra Jawa-Madura, dan Sastra Jawa-Palembang.
Dari semua sastra tradisional Nusantara, sastra Jawa adalah yang paling berkembang dan paling banyak tersimpan karya sastranya. Tetapi setelah proklamasi RI, tahun 1945 sastra Jawa agak dianaktirikan karena di Negara Kesatuan RI, kesatuan yang diutamakan.
Bahasa Jawa pertama-tama ditulis dalam aksara turunan aksara Pallawa yang berasal dari India Selatan. Aksara ini yang menjadi cikal bakal aksara Jawa modern atau Hanacaraka yang masih dipakai sampai sekarang. Dengan berkembangnya agama Islam pada abad ke-15 dan ke-16, huruf Arab juga dipergunakan untuk menulis bahasa Jawa; huruf ini disebut dengan nama huruf pegon. Ketika bangsa Eropa menjajah Indonesia, termasuk Jawa, abjad Latin pun digunakan untuk menulis bahasa Jawa.

Kategori sastra Jawa

Sastra Jawa secara global bisa dibagi menjadi dua kategori yaitu yang ditulis dalam bentuk prosa atau puisi. Dalam bentuk prosa biasanya disebut gancaran dan dalam bentuk puisi biasa disebut dengan istilah tembang. Sebagian besar karya sastra Jawa ditulis dalam bentuk tembang mulai dari awal bahkan sampai saat ini. Untuk informasi lebih lanjut silakan lihat artikel: Tembang dalam Sastra Jawa.

SASTRA BANJAR

DEFINISI SASTRA BANJAR

Menurut Tajuddin Noor Ganie (2006:4) para cerdik pandai di kalangan etnis Banjar di Tanah Banjar (Kalimantan Selatan) masih saling adu argumentasi mengenai definisi sastra Banjar yang paling pas. Dalam tulisannya di rubrik Opini SKH Radar Banjarmasin Minggu (Pintu Masuk ke Rumah Sastra Banjar), Tajuddin Noor Ganie mencatat setidak-tidaknya ada 5 definisi sastra Banjar yang layak dipertimbangkan untuk dipikirkan dan akhirnya disepakati bersama oleh semua pihak untuk ditetapkan sebagai definisi sastra Banjar yang diresmikan.

DEFINISI PERTAMA

Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang peri kehidupan etnis Banjar di Tanah Banjar (Kalsel) yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh sastrawan yang berasal dari kalangan etnis Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar.

Ciri-ciri dan Implikasinya
Menurut definisi di atas Sastra Banjar merujuk kepada 3 ciri, yakni :
  1. bercerita tentang kehidupan keseharian etnis Banjar di Tanah Banjar (fokus dan lokus menyangkut aspek sosio kultural bersifat ekskulsif)
  2. dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar (fokus dan lokus menyangkut aspek bahasanya bersifat eksklusif)
  3. sastrawan yang melisankan atau menuliskannya bukan sastrawan anonim tapi sastrawan yang diketahui asal-usulnya, yakni berasal dari kalangan etnis Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar (fokus dan lokus menyangkut faktor etnisitas sastrawannya bersifat eksklusif)
Implikasi akibat adanya ciri ke 3 pada defiisi sastra Banjar di atas adalah tidak tertampungnya karya sastra berbahasa Banjar yang bersifat anonim karena faktor etnisitas yang melekat pada diri sastrawan anonim tidak dapat dipastikan dengan jelas. Akibatnya, semua karya sastra berbahasa Banjar yang anonim seperti andi-andi, bacaan (mantra Banjar), bapandung (monolog Banjar), cerita rakyat (mitologi, legenda, hikayat, kisah, dongeng), japin carita (teater), lamut (prosa liris berbahasa Banjar), madihin (puisi Banjar), mamanda (teater), pantun Banjar, syair Banjar, dan surat tarasul (surat cinta berbahasa Banjar) tidak dapat dimasukkan ke dalam kelompok sastra Banjar.

DEFINISI DUA

Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang peri kehidupan etnis Banjar di mana pun juga di seluruh dunia (tidak mesti di Tanah Banjar)yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh sastrawan yang berasal dari kalangan etnis Banjar di mana saja mereka berada di seluruh dunia (tidak mesti lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Tanah Banjar).

Ciri-ciri dan Implikasinya
Menurut definisi di atas sastra Banjar merujuk kepada 3 ciri, yakni :
  1. bercerita tentang peri kehidupan etnis Banjar di mana pun juga di seluruh dunia (fokus dan lokus menyangkut aspek sosio kulturalnya tidak dibatasi)
  2. dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar (fokus dan lokus menyangkut aspek bahasanya bersifat eksklusif)
  3. sastrawan yang melisankan atau menuliskannya tidak dibatasi pada sastrawan Banjar yang lahir, tinggal, atau pernah tinggal di Kalsel saja, semua sastrawan keturunan Banjar di mana pun mereka berada termasuk dalam lingkup definisi ini (fokus dan lokus menyangkut faktor etnisitas sastrawannya bersifat terbuka), pengecualian hanya dilakukan bagi sastrawan anonim
Implikasi akibat adanya pengecualian terhadap sastrawan anonim pada ciri yang ke 3 di atas, maka semua genre/jenis sastra Banjar yang tertolak pada definisi pertama juga masih tertolak pada defiisi ke dua ini.

DEFINISI TIGA

Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang peri kehidupan etnis Banjar di mana pun juga di seluruh dunia (tidak mesti di Tanah Banjar) yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh siapa saja (tidak mesti oleh sastrawan yang berlatar belakang etnis Banjar),

Ciri-ciri dan Implikasinya
Menurut definisi di atas sastra Banjar merujuk kepada 3ciri, yakni
  1. bercerita tentang peri kehidupan etnis Banjar di mana pun juga di seluruh dunia (fokus dan lokus menyangkut aspek sosio kulturalnya tidak dibatasi
  2. dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar (fokus dan lokus menyangkut aspek bahasanya bersifat eksklusif)
  3. sastrawan yang melisankan atau menuliskannya boleh siapa saja, termasuk oleh sastrawan anonim sekali pun (fokus dan lokus menyangkut faktor etnisitas sastrawannya bersifat terbuka, tidak ada pengecualian sama sekali).
Implikasi akibat tidak adanya pembatasan dalam hal fokus dan lokus menyangkut faktor etnisitas sastrawannya (anonim, tidak anonim, Banjar, dan bukan Banjar sama saja), maka semua genre/jenis sastra Banjar yang tertolak dalam definisi satu dan dua di atas dengan sendirinya ikut tertampung dalam definisi tiga ini.

DEFINISI EMPAT

Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang apa saja (tidak mesti tentang peri kehidupan etnis Banjar di mana pun juga di seluruh di dunia) yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar oleh siapa saja (tidak mesti oleh sastrawan berlatar belakang etnis Banjar).

Ciri-ciri dan Implikasinya
Menurut definisi di atas sastra Banjar hanya merujuk kepada satu ciri, yakni dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar. Semua karya sastra yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar, tanpa memandang apa pun yang diceritakan di dalamnya tetap diakui sebagai sastra Banjar (fokus dan lokus menyangkut aspek sosio kulturalnya tidak dibatasi), dan siapun yang meuliskannya (anonim, tidak anonim, orang Banjar, atau bukan orang Banjar) tetap diakui sebagai sastra Banjar (fokus dan lokus menyangkut faktor etnisitas sastrawannya bersifat terbuka).
Implikasi akibat tidak adanya pembatasan dalam hal fokus dan lokus menyangkut aspek sosio kultural dan faktor etnisitas sastrawannya, maka sastra Banjar menjadi wilayah kreatif yang terbuka bagi siapa saja yang mampu melisankan dan menuliskan karya sastra berbahasa Banjar.

DEFINISI LIMA

Semua jenis karya sastra yang bercerita tentang peri kehidupan etnis Banjar di mana pun juga di seluruh dunia yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa apa saja (tidak mesti dalam bahasa Banjar)oleh siapa saja (tidak mesti oleh sastrawan yang berlatar belakang etnis Banjar)

Ciri-ciri dan Implikasinya
Menurut definisi di atas sastra Banjar hanya merujuk kepada satu ciri, yakni bercerita tentang peri kehidupan etnis Banjar di mana pun juga di seluruh dunia.
Implikasi akibat tidak adanya pembatasan dalam hal fokus lokus menyangkut aspek bahasa dan faktor etnisitas sastrawannya, maka sastra Banjar menjadi wilayah kreatif yang terbuka bagi siapa saja (tidak mesti bersuku bangsa Banjar) yang mampu melisankan atau menuliskan karya sastra dalam bahasa yang dikuasainya (tidak mesti dalam bahasa Banjar) yang bercerita tentang peri kehidupan etnis Banjar di mana pun juga di seluruh dunia.

Sastra Bali

Sastra Bali merupakan salah satu khazanah kesusastraan Nusantara.
Seperti kesusastraan umumnya, sastra Bali ada yang diaktualisasikan dalam bentuk lisan (orality) dan bentuk tertulis (literary). Menurut katagori periodisasinya kesusastraan Bali ada yang disebut Sastra Bali Purwa dan Sastra Bali Anyar. Sastra Bali Purwa maksudnya adalah Sastra Bali yang diwarisi secara tradisional dalam bentuk naskah-naskah lama. Sastra Bali Anyar yaitu karya sastra yang diciptakan pada masa masyarakat Bali telah mengalami modernisasi. Ada juga yang menyebut dengan sebutan Sastra Bali Modern.
Sastra Bali sebelum dikenal adanya kertas di Bali, umumnya ditulis di atas daun lontar. Karena ditulis di atas daun lontar, "buku sastra" ini disebut dengan "lontar". Memang ada bentuk tertulis lainnya, seperti prasasti, dengan menggunakan berbagai media seperti batu dan lempengan tembaga, namun tidak terdapat karya Sastra Bali ditulis di atas bilah bambu, kulit binatang, kayu, kulit kayu. Belakangan setelah dikenal kertas, penulis karya sastra Bali menuliskan karyanya di atas kertas, bahkan sudah banyak diketik.
Bahasa yang digunakan untuk menulis Sastra Bali ada tiga jenis yaitu Bahasa Jawa Kuna (Kawi Bali), Bahasa Jawa Tengahan, Bahasa Bali.

Sastra

Sastra (Sanskerta: शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu.
Yang agak bias adalah pemakaian istilah sastra dan sastrawi. Segmentasi sastra lebih mengacu sesuai defenisinya sebagai sekedar teks. Sedang sastrawi lebih mengarah pada sastra yang kental nuansa puitis atau abstraknya. Istilah sastrawan adalah salah satu contohnya, diartikan sebagai orang yang menggeluti sastrawi, bukan sastra.
Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.
Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa.
Jadi, yang termasuk dalam kategori Sastra adalah:

Angkatan 2000-an

Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000

  • Ahmad Fuadi
    • Negeri 5 Menara (2009)
    • Ranah 3 Warna (2011)
    • Rantau 1 Muara (2013)
  • Andrea Hirata
    • Laskar Pelangi (2005)
    • Sang Pemimpi (2006)
    • Edensor (2007)
    • Maryamah Karpov (2008)
    • Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)
  • Ayu Utami
    • Saman (1998)
    • Larung (2001)
  • Cucuk Espe
    • Para Pejabat (1995)
    • Monolog Sang Penari (1997)
    • Bukan Mimpi Buruk (1998)
    • Mengejar Kereta Mimpi (2001)
    • Rembulan Retak (2003)
    • Juliet dan Juliet (2004)
    • 13 Pagi (2010)
    • Trilogi monolog JENDERAL MARKUS (2010)
    • INONG dongeng rumah jalang (2011)
    • Wisma Presiden (2012)
    • Ganasrev (2013)
    • Puisinolog; MANIVESTO ORGIL, (2014)
    • Revolusi Senyap (2014)
    • 3 Repertoar Cucuk Espe (2015)
  • Dewi Lestari
    • Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
    • Supernova 2: Akar (2002)
    • Supernova 3: Petir (2004)
    • Supernova 4: Partikel (2012)
  • Habiburrahman El Shirazy
    • Ayat-Ayat Cinta (2004)
    • Diatas Sajadah Cinta (2004)
    • Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
    • Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
    • Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
    • Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
    • Dalam Mihrab Cinta (2007)
  • Herlinatiens
    • Garis Tepi Seorang Lesbian (2003)
    • Dejavu, Sayap yang Pecah (2004)
    • Jilbab Britney Spears (2004)
    • Sajak Cinta Yang Pertama (2005)
    • Malam Untuk Soe Hok Gie (2005)
    • Rebonding (2005)
    • Broken Heart, Psikopop Teen Guide (2005)
    • Koella, Bersamamu dan Terluka (2006)
    • Sebuah Cinta yang Menangis (2006)
  • Raudal Tanjung Banua
    • Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
    • Ziarah bagi yang Hidup (2004)
    • Parang Tak Berulu (2005)
    • Gugusan Mata Ibu (2005)
  • Seno Gumira Ajidarma
    • Atas Nama Malam
    • Sepotong Senja untuk Pacarku
    • Biola Tak Berdawai

Angkatan Reformasi

Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra(dot)com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi

  • Widji Thukul
  • Puisi Pelo
  • Darman

Angkatan 1980 - 1990an

Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an

  • Ahmadun Yosi Herfanda
    • Ladang Hijau (1980)
    • Sajak Penari (1990)
    • Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
    • Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
    • Sembahyang Rumputan (1997)
  • Y.B Mangunwijaya
    • Burung-burung Manyar (1981)
  • Darman Moenir
    • Bako (1983)
    • Dendang (1988)
  • Budi Darma
    • Olenka (1983)
    • Rafilus (1988)
  • Sindhunata
    • Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
  • Arswendo Atmowiloto
    • Canting (1986)
  • Hilman Hariwijaya
    • Lupus - 28 novel (1986-2007)
    • Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
    • Olga Sepatu Roda (1992)
    • Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)
  • Dorothea Rosa Herliany
    • Nyanyian Gaduh (1987)
    • Matahari yang Mengalir (1990)
    • Kepompong Sunyi (1993)
    • Nikah Ilalang (1995)
    • Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
  • Gustaf Rizal
    • Segi Empat Patah Sisi (1990)
    • Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
    • Ben (1992)
    • Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
  • Remy Sylado
    • Ca Bau Kan (1999)
    • Kerudung Merah Kirmizi (2002)
  • Afrizal Malna
    • Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
    • Yang Berdiam Dalam Mikropon (1990)
    • Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
    • Dinamika Budaya dan Politik (1991)
    • Arsitektur Hujan (1995)
    • Pistol Perdamaian (1996)
    • Kalung dari Teman (1998)
  • Templat:Lintang Sugianto
    • Templat:Matahari Di atas Gilli (1997)
    • Templat:Kusampaikan kumpulan puisi (2002)
    • Templat:Menyapa Pagi Anak Aceh (2004)

Angkatan 1966 - 1970-an

Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3] Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966

  • Taufik Ismail
    • Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
    • Tirani dan Benteng
    • Buku Tamu Musim Perjuangan
    • Sajak Ladang Jagung
    • Kenalkan
    • Saya Hewan
    • Puisi-puisi Langit
  • Sutardji Calzoum Bachri
    • O
    • Amuk
    • Kapak
  • Abdul Hadi WM
    • Meditasi (1976)
    • Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)
    • Tergantung Pada Angin (1977)
  • Sapardi Djoko Damono
    • Dukamu Abadi (1969)
    • Mata Pisau (1974)
  • Goenawan Mohamad
    • Parikesit (1969)
    • Interlude (1971)
    • Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)
    • Seks, Sastra, dan Kita (1980)
  • Umar Kayam
    • Seribu Kunang-kunang di Manhattan
    • Sri Sumarah dan Bawuk
    • Lebaran di Karet
    • Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
    • Kelir Tanpa Batas
    • Para Priyayi
    • Jalan Menikung
  • Danarto
    • Godlob
    • Adam Makrifat
    • Berhala
  • Nasjah Djamin
    • Hilanglah si Anak Hilang (1963)
    • Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)
  • Putu Wijaya
    • Bila Malam Bertambah Malam (1971)
    • Telegram (1973)
    • Stasiun (1977)
    • Pabrik
    • Gres
    • Bom
  • Djamil Suherman
    • Perjalanan ke Akhirat (1962)
    • Manifestasi (1963)
  • Titis Basino
    • Dia, Hotel, Surat Keputusan (1963)
    • Lesbian (1976)
    • Bukan Rumahku (1976)
    • Pelabuhan Hati (1978)
    • Pelabuhan Hati (1978)
  • Leon Agusta
    • Monumen Safari (1966)
    • Catatan Putih (1975)
    • Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978)
    • Hukla (1979)
  • Iwan Simatupang
    • Ziarah (1968)
    • Kering (1972)
    • Merahnya Merah (1968)
    • Keong (1975)
    • RT Nol/RW Nol
    • Tegak Lurus Dengan Langit
  • M.A Salmoen
    • Masa Bergolak (1968)
  • Parakitri Tahi Simbolon
    • Ibu (1969)
  • Chairul Harun
    • Warisan (1979)
  • Kuntowijoyo
    • Khotbah di Atas Bukit (1976)
  • M. Balfas
    • Lingkaran-lingkaran Retak (1978)
  • Mahbub Djunaidi
    • Dari Hari ke Hari (1975)
  • Wildan Yatim
    • Pergolakan (1974)
  • Harijadi S. Hartowardojo
    • Perjanjian dengan Maut (1976)
  • Ismail Marahimin
    • Dan Perang Pun Usai (1979)
  • Wisran Hadi
    • Empat Orang Melayu
    • Jalan Lurus

Angkatan 1950 - 1960-an

Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an

  • Pramoedya Ananta Toer
    • Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
    • Bukan Pasar Malam (1951)
    • Di Tepi Kali Bekasi (1951)
    • Keluarga Gerilya (1951)
    • Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
    • Perburuan (1950)
    • Cerita dari Blora (1952)
    • Gadis Pantai (1962-65)
  • Nh. Dini
    • Dua Dunia (1950)
    • Hati jang Damai (1960)
  • Sitor Situmorang
    • Dalam Sadjak (1950)
    • Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
    • Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
    • Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
    • Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
  • Mochtar Lubis
    • Tak Ada Esok (1950)
    • Jalan Tak Ada Ujung (1952)
    • Tanah Gersang (1964)
    • Si Djamal (1964)
  • Marius Ramis Dayoh
    • Putra Budiman (1951)
    • Pahlawan Minahasa (1957)
  • Ajip Rosidi
    • Tahun-tahun Kematian (1955)
    • Ditengah Keluarga (1956)
    • Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
    • Cari Muatan (1959)
    • Pertemuan Kembali (1961)
  • Ali Akbar Navis
    • Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1955)
    • Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
    • Hujan Panas (1964)
    • Kemarau (1967)
  • Toto Sudarto Bachtiar
    • Etsa sajak-sajak (1956)
    • Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)
  • Ramadhan K.H
    • Priangan si Jelita (1956)
  • W.S. Rendra
    • Balada Orang-orang Tercinta (1957)
    • Empat Kumpulan Sajak (1961)
    • Ia Sudah Bertualang (1963)
  • Subagio Sastrowardojo
    • Simphoni (1957)
  • Nugroho Notosusanto
    • Hujan Kepagian (1958)
    • Rasa Sajangé (1961)
    • Tiga Kota (1959)
  • Trisnojuwono
    • Angin Laut (1958)
    • Dimedan Perang (1962)
    • Laki-laki dan Mesiu (1951)
  • Toha Mochtar
    • Pulang (1958)
    • Gugurnya Komandan Gerilya (1962)
    • Daerah Tak Bertuan (1963)
  • Purnawan Tjondronagaro
    • Mendarat Kembali (1962)
  • Bokor Hutasuhut
    • Datang Malam (1963)

Angkatan 1945

Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945

  • Chairil Anwar
    • Kerikil Tajam (1949)
    • Deru Campur Debu (1949)
  • Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
    • Tiga Menguak Takdir (1950)
  • Idrus
    • Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
    • Aki (1949)
    • Perempuan dan Kebangsaan
  • Achdiat K. Mihardja
    • Atheis (1949)
  • Trisno Sumardjo
    • Katahati dan Perbuatan (1952)
  • Utuy Tatang Sontani
    • Suling (drama) (1948)
    • Tambera (1949)
    • Awal dan Mira - drama satu babak (1962)
  • Suman Hs.
    • Kasih Ta' Terlarai (1961)
    • Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
    • Pertjobaan Setia (1940)

Pujangga Baru

Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistis dan elitis.
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karyanya Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.
Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
  1. Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
  2. Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru

  • Sutan Takdir Alisjahbana
    • Dian Tak Kunjung Padam (1932)
    • Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
    • Layar Terkembang (1936)
    • Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
  • Hamka
    • Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
    • Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (1939)
    • Tuan Direktur (1950)
    • Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
  • Armijn Pane
    • Belenggu (1940)
    • Jiwa Berjiwa
    • Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
    • Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
    • Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
    • Habis Gelap Terbitlah Terang - Terjemahan Surat R.A. Kartini (1945)
  • Sanusi Pane
    • Pancaran Cinta (1926)
    • Puspa Mega (1927)
    • Madah Kelana (1931)
    • Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
    • Kertajaya (1932)
  • Tengku Amir Hamzah
    • Nyanyi Sunyi (1937)
    • Begawat Gita (1933)
    • Setanggi Timur (1939)
  • Roestam Effendi
    • Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
    • Pertjikan Permenungan
  • Sariamin Ismail
    • Kalau Tak Untung (1933)
    • Pengaruh Keadaan (1937)
  • Anak Agung Pandji Tisna
    • Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
    • Sukreni Gadis Bali (1936)
    • I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
  • J.E.Tatengkeng
    • Rindoe Dendam (1934)
  • Fatimah Hasan Delais
    • Kehilangan Mestika (1935)
  • Said Daeng Muntu
    • Pembalasan
    • Karena Kerendahan Boedi (1941)
  • Karim Halim
    • Palawija (1944)

Angkatan Balai Pustaka

Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" karena ada banyak sekali karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.[2]
Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-tema inilah yang banyak diikuti oleh penulis-penulis lainnya pada masa itu.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:
  • Merari Siregar
  • Azab dan Sengsara (1920)
  • Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
  • Cinta dan Hawa Nafsu
  • Marah Roesli
  • Siti Nurbaya (1922)
  • La Hami (1924)
  • Anak dan Kemenakan (1956)
  • Muhammad Yamin
  • Tanah Air (1922)
  • Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
  • Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
  • Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
  • Nur Sutan Iskandar
  • Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
  • Cinta yang Membawa Maut (1926)
  • Salah Pilih (1928)
  • Karena Mentua (1932)
  • Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
  • Hulubalang Raja (1934)
  • Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
  • Tulis Sutan Sati
  • Tak Disangka (1923)
  • Sengsara Membawa Nikmat (1928)
  • Tak Membalas Guna (1932)
  • Memutuskan Pertalian (1932)
  • Djamaluddin Adinegoro
  • Darah Muda (1927)
  • Asmara Jaya (1928)
  • Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati
  • Pertemuan (1927)
  • Abdul Muis
  • Salah Asuhan (1928)
  • Pertemuan Djodoh (1933)
  • Aman Datuk Madjoindo
  • Menebus Dosa (1932)
  • Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
  • Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

Sastra Melayu Lama

Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.

Karya Sastra Melayu Lama

  • Robinson Crusoe (terjemahan)
  • Lawan-lawan Merah
  • Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
  • Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
  • Kapten Flamberger (terjemahan)
  • Rocambole (terjemahan)
  • Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
  • Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
  • Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
  • Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
  • Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
  • Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
  • Cerita Nyi Paina
  • Cerita Nyai Sarikem
  • Cerita Nyonya Kong Hong Nio
  • Nona Leonie
  • Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
  • Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
  • Cerita Rossina
  • Nyai Isah oleh F. Wiggers
  • Drama Raden Bei Surioretno
  • Syair Java Bank Dirampok
  • Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
  • Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
  • Tambahsia
  • Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
  • Nyai Permana
  • Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
  • dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya

Pujangga Lama

Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.[1]

Karya Sastra Pujangga Lama

Sejarah

Hikayat

  • Hikayat Abdullah
  • Hikayat Aceh
  • Hikayat Amir Hamzah
  • Hikayat Andaken Penurat
  • Hikayat Bayan Budiman
  • Hikayat Djahidin
  • Hikayat Hang Tuah
  • Hikayat Iskandar Zulkarnain
  • Hikayat Kadirun
  • Hikayat Kalila dan Damina
  • Hikayat Masydulhak
  • Hikayat Pandawa Jaya
  • Hikayat Pandja Tanderan
  • Hikayat Putri Djohar Manikam
  • Hikayat Sri Rama
  • Hikayat Tjendera Hasan
  • Tsahibul Hikayat

Syair

Gurindam

Kitab agama

  • Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
  • Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
  • Nur ad-Daqa'iq (Cahaya pada kehalusa
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.

Sastra Indonesia

Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.

Rabu, 26 Agustus 2015

Selamat Datang di Blog Ilmu & Karya Sastra

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah swt. atas nikmat serta karunianya Saya bisa menyampaikan sedikit ilmu kepada teman/saudara/kerabat melalui Blog sederhana ini. Tidak lupa sholawat serta salam Saya sampaikan kepada Nabi Muhammad saw. Yang menjadi penuntun umat manusia di dunia untuk senantiasa mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah swt. 
Dengan Blog sederhana ini Saya bermaksud memberikan sedikit ilmu dan karya tentang tentang sastra. Dalam Blog ini Saya tidak bermaksud menggurui atau menganggap lebih pandai dalam menyampaikan ilmu dan karya tentang sastra. Namun dengan dibuatnya Blog ini, Saya berharap bagi teman-teman di dunia dapat memanfaatkan apa yang terdapat dalam Blog. 
Apabila didalam Bolg ini terdapat kekeliuran penulisan/makna/simbol serta mengandung SARA, Saya memohon maaf dan mohon untuk bisa disampaikan melalui koment yang tersedia. Apabila dari para pembaca ingin memuat pengetahuan tentang sastra dan karya sastra bisa mengirimkan melalui email yang tersedia. Blog ini terbuka untuk siapa saja yang ingin membaca atau mengkopi isi dalam Blog (dengan menyertakan halaman Blog ini).